Minggu, 27 Juni 2021

ARTIKEL: CAMPUR KODE DALAM TAKLSHOW KELAS INTERNASIONAL

 

CAMPUR KODE DALAM TALKSHOW

KELAS INTERNASIONAL

 

MIXED CODE IN TALKSHOW
INTERNATIONAL CLASS

 

Armet

STKIP PGRI Sumatera Barat

Pos-el: armetpgri@gmail.com


Abstrak

            Kelas Internasional adalah judul talkshow yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta nasional, Net TV. Talkshow ini menceritakan tentang seorang guru bernama Pak Budi. Beliau mengajari murid-muridnya yang merupakan Warga Negara Asing (WNA) untuk belajar bahasa Indonesia. Dia mengajar murid-murid asing di sebuah Sekolah. Penelitian ini mengkaji tentang campur kode  yang dilakukan para pemain talkshow Kelas Internasional episode 72 dan 73. Bentuk campur kode yang digunakan para pemain talkshow Kelas Internasional adalah berbentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat. Campur kode yang sering muncul dari keempat bentuk campur kode tersebut adalah penyisipan unsur berbentuk kata.

Kata kunci: campur kode,  talk show


PENDAHULUAN

Campur kode merupakan suatu fenomena yang terjadi pada masyarakat dwibahasa. Campur kode ini sering terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya.  Ini sering terjadi biasanya berhubungan dengan karakteristik penutur, latar belakang sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Semua itu, bisa terjadi karena keterbatasan bahasa dan ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Masyarakat multitingkat atau bilingual seperti halnya di masyarakat Indonesia sebagian besar mengenal dan memahami dua bahasa dalam berkomunikasi, sering kita jumpai orang mengganti bahasa atau ragam bahasanya sehingga hal ini menjadi suatu kebiasaan dalam berkomunikasi.Campur kode menarik untuk diteliti.

Kelas Internasional adalah judul talkshow yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta nasional, Net TV. Talkshow ini menceritakan tentang seorang guru bernama Pak Budi. Beliau mengajari murid-muridnya yang merupakan Warga Negara Asing untuk belajar bahasa Indonesia. Dia mengajar murid-murid asing di sebuah Sekolah. Fokus penelitian ini adalah acara talkshow Kelas Internasional episode 72 dan 73. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk campur kode yang digunakan pemain talkshow Kelas Internasional. Adapun bentuk-bentuk campur kode yang akan diteliti tersebut meliputi pemakaian kata, frasa,  klausa, dan kalimat.

Wardhaugh (dalam Nursaid dan Marjusman, 2002:113) menyatakan campur kode terjadi ketika komunikan pembicara menggunakan kedua bahasa itu secara bersama-sama dalam satu ujaran oleh seorang komunikan. Campur kode itu dapat dikatakan sebagai tanda persahabatan, atau sebagai sumber kebahagiaan. Kemudian Nababan (1991:32) mengatakan campur kode yaitu suatu keadaan berbahasa lain ialah bilamana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu. Maksudnya adalah keadaan yang tidak memaksa atau menuntut seseorang untuk mencampur suatu bahasa ke dalam bahasa lain saat peristiwa tutur sedang berlangsung. Jadi penutur dapat dikatakan secara tidak sadar melakukan percampuran serpihan-serpihan bahasa ke dalam bahasa asli. Campur kode serupa dengan interfensi dari bahasa satu ke bahasa lain.

Selain itu, Nursaid dan Marjusman (2002:114) menyimpulkan bahwa campur kode adalah pergantian dua bahasa atau lebih, dua ragam atau lebih, dua dialek atau lebih yang terjadi dalam suatu ujaran. Pergantian itu terjadi bukan dikarenakan oleh faktor situasi atau fungsi dan keperluan, melainkan oleh beberapa faktor situasi atau fungsi dan keperluan, melainkan oleh bebrapa faktor untuk menaikkkan kedudukan atau derajat atau prestise si penutur.

Lebih lanjut Sumarsono (2004:202) menjelaskan kata-kata yang sudah mengalami proses adaptasi dalam suatu bahasa bukan lagi kata yang-kata yang megalami gejala interfensi, bukan pula alih kode, apalagi campur kode. akan berbeda jika penutur secara sadar atau sengaja menggunakan unsur bahasa lain ketika sedang berbicara dalam suatu bahasa. Peristiwa inilah yang kemudian disebut dengan capur kode. Oleh karena itu, dalam bahasa tulisan, biasanya unsur-unsur tersebut ditunjukkan dengan menggunakan garis bawah atau cetak miring sebagai penjelasan bahwa si penulis menggunakannya secara sadar.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010: 4) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati. Metode penelitian yang digunakan adalah motode deskriptif.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.      Jenis Campur Kode

Menurut Nursaid dan Marjusman (2002:112), campur kode lebih dilatarbelakangi oleh faktor subyektif, bahkan ego atau kelakuan komunikan. Jika dalam melakukan campur kode komunikan mencampur bahasa pertama (bahasa utama, misalnya bahasa Indonesia) dengan bahasa kedua (bahasa lain, misalnya bahasa minangkabau), berarti campur kode yang dilakukan disebut campur kode ke dalam atau inner code-mixing. Sebaliknya, jika dalam melakukan campur kode komunikan mencampur bahasa pertama (bahasa utama, misalnya bahasa Indonesia) dengan bahasa kedua (bahasa lain, misalnya bahasa asing), berarti campur kode yang dilakukan disebut campur kode ke luar atau outer code-mixing.

2.      Bentuk Satuan Bahasa dalam Campur Kode

Bidang linguistik yang membicarakan tentang satuan bahasa disebut sintaksis. Jadi sintaksis adalah ilmu bahasa yang membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu ujaran. Menurut Chaer (2003:219) bentuk satuan bahasa terdiri atas, (a) Kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarki menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frasa, klausa, kalimat dan wacana (Chaer, 2003:219), (b) frasa merupakan satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat (Chaer, 2003:222), (c) klausa merupakan satuan sintaksis yang berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif, artinya di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frasa, yang berfungsi sebagai predikat, artinya di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frasa, yang berfungsi sebagai predikat, yang lainnya berfungsi sebgai subjek, objek dan sebagai keterangan (Chaer, 2003:231), (d) kalimat merupakan satuan bahasa (sintaksis) berupa kata, frasa dan klausa, dilengkapi dengan konjungsi, serta diikuti dengan intonasi final (Chaer, 2003:240), (e) wacana merupakan satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar (Chaer, 2003:267). Jadi sebagai satuan bahasa yang lengkap, di dalam wacana tersebut terdapat konsep, gagsan, pikiran, atau ide yang utuh yng dapat dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan).

3.      Penyebab Campur Kode

Suwito (dalam Rokhman, 2013:38) menjelaskan ada dua penyebab terjadinya campur kode, yaitu campur kode yang bersifat ke luar dan ke dalam. Penyebab terjadinya campur kode yang bersifat keluar anara lain: (a) identifikasi peranan, ukuran untuk identifikasi peranan aadalah sosial, registrasi dan edukasional, (b) identifikasi ragam, ditentukan oleh bahasa dimana seorang penutur melakukan campur kode yang akan menempatkan dia dalam hierarki status sosial, (c) keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, nampak karena campur kode juga menandai sikap dan hubungannya terhadap orang lain dan sikap dan hubungan orang lain terhadapnya.

Campur kode ke dalam nampak misalnya apabila seorang penutur menyisipkan unsur-unsur bahasa daerahnya ke dalam bahasa nasional, unsur-unsur dialeknya ke dalam bahasa daerahnya atau unsur-unsur ragam dan gayanya ke dalam dialeknya. Selain itu, campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan (penutur), bentuk bahasa dan fungsi bahasa. Artinya, penutur yang mempunyai latar belakang sosial tertentu, cenderung memilih bentuk campur kode tertentu untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu. Pemilihan bentuk campur kode demikian dimaksudkan untuk menunjukkan status  sosial dan identitas pribadinya di dalam masyarakat.

Adapun faktor penyebab terjadinya campur kode menurut Nababan (1991:32) yaitu (1) kesantaian penutur, (2) situasi formal, (3) kebiasaan, (4) tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa daerah atau bahasa asing.

A.    Campur Kode dalam Talkshow Kelas Internasional

 

Berdasarkan penjelasan di atas, bentuk satuan bahasa yang dianalisis dalam campur kode, yaitu (1) satuan bahasa berupa kata, terdiri atas kata, (2) satuan bahasa berupa frasa, yang terdiri atas frasa, dan ungkapan,  (3) satuan bahasa berupa klausa, dan (4) satuan bahasa berupa kalimat. Adapun data yang berkaitan dengan kedua jenis campur kode  pada dialog talkshow Kelas Internasional adalah sebagai berikut.

 

1.      Campur Kode ke dalam Pada Penyisipan Kata

 

Data 1

Pak Sueb           : Wah, keliatannya semakin seru aja ini pertandingannya!

Buk Rika           : Sueb, kamu diam! Jangan ganggu kosentrasi!

Pak Sueb           : Maaf mother I ngak maksud ganggu. Kartini I mau pesan..

Buk Kartini  : Udah deh Ep, kamu ke warteg aja deh, warungya tutup!

Pak Sueb           : Ya Buk Kartini, I kan belum makan, lapar!

Buk Kartini       : Diam!!!

 

Berdasarkan data 1 jenis campur kode yang digunakan adalah campur kode ke dalam berupa bentuk kata. Pada awalnya Pak Sueb menggunakan bahasa asing dalam bentuk kata I dan kata mother, kemudian mencampurkan dengan bahasa Indonesia. Kata I memilki arti saya dan mother artinya ibu. Munculnya campur kode pada data 1 tersebut disebabkan Pak Sueb sudah terbiasa mencampur-campurkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia karena sekolah tempat Pak Sueb  bekerja adalah  khusus belajar bahasa Indonesia bagi orang asing. Kemudian campur kode berupa bentuk kata juga terdapat pada data 2 berikut ini.

 

Data 2

Sueb    : Tyson..Lee..!

Lee      : Kenapa Sueb?

Sueb    : Aye boleh ngak pinjam haerphonenya?

Berdasarkan data 2 di atas, jenis campur kode yang digunakan adalah campur kode ke dalam berupa bentuk kata. Pada awalnya Sueb menggunakan  bahasa Indonesia kemudian mencampurkan dengan bahasa daerah dalam bentuk kata aye.  Kata aye memiliki arti saya.

Data selanjutnya tentang campur kode berupa bentuk kata yaitu perjelasan yang dilakukan oleh Pak Bowo tentang casting iklan. Awalnya Pak Bowo menggunakan bahasa Indonesia kemudian mencampurkan dengan bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Bahasa tersebut yaitu kata open yang artinya membuka serta kata yes yang artinya iya. Terlihat pada kutipan berikut ini. 

Data 3

Pak Bowo         :Karena semangat kalian menjadi iklan produk heardphone ini sangat tinggi, maka dari itu saya akan open casting!

Lee                    : Yes..yes

Pak Budi           : Pak Bowo, boleh saya ikut?

Pak Bowo         : Boleh.

 

Data 4

Abbas              : Sueb, kamu main pesawat terbang?

Pak Sueb       : Bukan. This is balin-baling. Kenape? Abbas interesting?

Berdasarkan data 4 jenis campur kode yang digunakan adalah campur kode ke dalam berupa bentuk kata. Pada awalnya Pak Sueb menggunakan bahasa Indonesia, kemudian Pak Sueb mencampurkan dengan bahasa Inggris berupa interesting. Kata interesting memiliki arti tertarik.  Munculnya campur kode pada data 4 tersebut disebabkan Pak Sueb memperkenalkan sebuah mainan kepada Abbas yang berasal dari negeri asing.

2.      Campur Kode ke dalam Pada Penyisipan Frasa

 

Data 4

Abbas : Sueb, kamu main pesawat terbang?

Pak Sueb         : Bukan. This is balin-baling.

 

Berdasarkan data 5 jenis campur kode yang digunakan adalah campur kode ke dalam berupa bentuk frasa. Pada awalnya Pak Sueb menggunakan  menggunakan bahasa Indonesia, kemudian mencampurkan dengan bahasa Inggris. Frasa This is dalam bahasa Indonesia memiliki arti ini adalah. Munculnya campur kode pada data 5 tersebut disebabkan karena Pak Sueb memberitahukan kepada Abbas tentang sebuah mainan. Dengan demikian terjadilah campur kode yaitu campur kode ke dalam berupa frasa. Selanjutnya campur kode berupa frasa juga terdapat pada data 6 berikut ini.

 

Data 6

Abbas              : Saya boleh main baling-baling?

Pak Sueb         : Boleh, tapi I sewain one thausand rupiah.

Abbas              : Saya mau sewa main

 

Berdasarkan data 6 di atas,  jenis campur kode yang digunakan adalah campur kode ke dalam berupa bentuk frasa. Pada awalnya Pak Sueb menggunakan menggunakan bahasa Indonesia, kemudian mencampurkan dengan bahasa Inggris. Klausa one thousand rupiah dalam bahasa Indonesia memiliki arti seribu rupiah. Munculnya campur kode pada data 6 tersebut disebabkan karena Pak Sueb sedang berbicara dengan orang asing yang sedang belajar bahasa Indonesia. Dengan demikian terjadilah campur kode yaitu campur kode ke dalam berupa klausa. Selanjutnya campur kode berupa frasa juga terdapat pada data 6 berikut ini

3.      Campur Kode ke dalam Pada Penyisipan Klausa

 

Data 5

Pak Sueb         : Ladies and Gentlemen! Silahkan minum sodaria!

Buk Kartini   : Ayo minuman enak dan segar, harganya murah!

Pak Sueb   : Kumpul..kumpul sebentar, ayo merapat! Ayo merapat!

 

Berdasarkan data 5 di atas,  jenis campur kode yang digunakan adalah campur kode ke dalam berupa bentuk klausa. Pada awalnya Pak Sueb menggunakan  menggunakan bahasa Indonesia, kemudian mencampurkan dengan bahasa Inggris. Klausa Ladies and Gentlemen dalam bahasa Indonesia memiliki arti Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Munculnya campur kode pada data 5 tersebut disebabkan karena Pak Sueb mempromosikan sebuah produk minuman kepada siswa asing yang sedang belajar bahasa Indonesia. Dengan demikian terjadilah campur kode yaitu campur kode ke dalam berupa klausa.

 

PENUTUP

Simpulan

Setelah dilakukan anlisis dan pembahasan terhadap acara talkshow Kelas Internasional episode 72 dan 73 khususnya pada campur kode yang digunakan oleh para pemain talkshow Kelas Internasional.  Bentuk campur kode yang digunakan para pemain talkshow Kelas Internasional adalah berbentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat. Campur kode yang sering muncul dari keempat bentuk campur kode tersebut adalah penyisipan unsur berbentuk kata.

Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi di atas, dapat dirumuskan saran sebagai berikut.

1.   Sosiolinguistik termasuk salah satu disiplin ilmu yang sangat penting untuk dikaji karena didalamnya dibahas bahasa dan masyarakat.

2.      Bagi guru, gunakan campur kode seperlunya saja.

3.      Hal-hal yang dipaparkan dalam penelitian ini walaupun singkat namun dapat  jadikan motivasi agar petutur  terus meningkatkan tuturannya.

KEPUSTAKAAN

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta:Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta.

Moleong, Lexy. J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:  Remaja Rosda Karya.

Nababan, P. W. J. 1991. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nursaid dan Marjusman Maksan. 2002. Sosiolinguistik (Buku Ajar). Padang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP.

Rokhman, Fatur. 2013. Sosiolinguistik: Suatu Pendekatan Pembelajaran Bahasa dalam Masyarakat Multikultural. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sumarsono dan Paina Partana. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Sabda.

Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar